Tradisi Nyongkolan, Ritual Adat Pengantin Suku Sasak Lombok

Lombok merupakan salah satu destinasi wisata yang paling diminati oleh para traveller, baik dari dalam maupun luar negeri. Keindahan alam yang menakjubkan, telah sukses membawa nama daerah ini hingga kancah internasional. Dan bukan hanya karena panorama alamnya saja, karena Lombok juga menawarkan pesona kebudayaan yang khas dan sangat menarik untuk dilihat..

Seperti yang kita tahu, Suku Sasak yang merupakan suku asli pulau Lombok memiliki kebudayaan tradisional yang sangat beragam. Seperti layaknya di Bali, berbagai ritual adat yang dilakukan masyarakat asli Sasak menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang tengah berkunjung di pulau ini. Beberapa di antaranya adalah serah ancak, nyalamak dilau, bau nyale, dan presean.

Beberapa tradisi tersebut adalah serangkaian ritual dalam pernikahan tradisional suku Sasak. Nah, selain beberapa ritual yang telah disebutkan diatas, ada satu lagi yang sangat menarik, yakni tradisi nyongkolan. Apakah Anda pernah mendengarnya?

Apa itu tradisi Nyongkolan Lombok?

Nyongkolan merupakan sebuah tradisi dalam pernikahan khas Lombok dengan mengarak secara beramai-ramai sepasang pengantin menuju rumah mempelai wanita. Ritual ini dimaksudkan untuk secara nyata memberitahu para warga sekitar bahwa pasangan tersebut sudah sah menikah. Ramainya arak-arakan ini diiringi juga dengan alat musik rebana khas suku Sasak atau biasa disebut gendang beleq, serta kesenian rudat atau pencak silat dari Timur Tengah.

Peserta nyongkolan terdiri dari para tokoh agama, pemuka adat, serta sanak saudara yang berjalan mengiringi pengantin dengan mengenakan busana adat suku Sasak. Pengiring wanita memakai kebaya khas Lombok, kereng atau sarung khas Lombok, sanggul atau penghias kepala, serta berbagai asesoris lainnya.

Sedangkan pengiring lelaki memakai baju adat godek nongke dan kereng poto atau sarung panjang khas Lombok, serta dilengkapi dengan sapu atau ikat kepala khas Lombok. Mereka pun beriringan mengelilingi desa bersama kedua mempelai ibarat raja dan permaisuri bersama pengawal dan dayangnya.

Saat akhir pekan, acara nyongkolan ini biasanya digelar sehingga menyebabkan beberapa ruas jalan menjadi ramai bahkan macet. Jadi, jika kebetulan Anda sedang berlibur di Lombok, sempatkanlah untuk menengok secara langsung ritual ini.

Selain untuk menambah pengetahuan budaya, Anda juga bisa memotret momen yang menyajikan keindahan tradisi lewat pakaian adat yang dikenakan oleh para pengiring serta kesenian yang tentu saja menarik untuk dilihat. Apalagi, bagi Anda para pecinta fotografi, iring-iringan pengantin ala Lombok ini akan menjadi peristiwa unik yang harus diabadikan.

Masyarakat Lombok percaya jika tradisi nyongkolan wajib digelar sebagai bagian ritual pernikahan. Jika tidak digelar, maka kehidupan rumah tangga pasangan pengantin baru tersebut tidak akan bisa langgeng. Bahkan, keturunan mereka akan terlahir cacat. Meskipun belum ada pembuktiannya ilimiah terkait hal itu, namun mitos tentang adat ini begitu diyakini dan tetap dipegang teguh hingga sekarang oleh suku Sasak.

Walau begitu, dalam pelaksanaannya sudah banyak perubahan dibanding pakem aslinya. Musik yang seharusnya menggunakan gendang beleq telah diganti dengan Kecimol atau dangdut koplo. Sedangkan para pesertanya seringkali terlibat perkelahian fatal lantaran mengkonsumsi minuman beralkohol.

Kedepannya, semoga kelestarian tradisi nyongkolan di Lombok ini tetap terjaga dan tidak ada lagi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi ya. Supaya nilai budaya yang tinggi tidak tercampur oleh kebiasaan yang kurang baik.

Itulah uraian singkat mengenai ritual nyongkolan khas suku Sasak. Bagaimana? Penasaran ingin melihat sendiri tradisi arak-arakan ini? Anda bisa langsung datang dan menikmati segala keseruannya saat berlibur ke Pulau Lombok.

About the Author: Ahmad Hazim

Hanya seorang pembuat blog sederhana, pecinta keindahan alam dan manusia biasa yang tak luput dari kesalahan....

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *